Anak cucu DI Pandjaitan dan Murad Aidit bicara tentang G30S dan Peristiwa 1965

Anak dan cucu Mayor Jendral (anumerta) DI Panjaitan serta Murad Aidit berbicara tentang pandangan mereka terkait peristiwa yang disebut pada zaman Orde Baru sebagai G30S/PKI, konflik yang mereka katakan tak mau mereka warisi.

Fico Fachriza adalah cucu dari Murad Aidit, adik kandung DN Aidit, yang pasca peristiwa G30S ditangkap dan sempat menjalani masa pengasingan hampir 15 tahun sebagai tahanan politik.

Fico mengaku keberadaan kakeknya sangat mempengaruhi pemahaman dia mengenai peristiwa 1965 dari sudut pandang lain di luar narasi pemerintah.

Sedangkan Sifra Panggabean dan Samuel Panggabean, cucu DI Pandjaitan - salah satu perwira tinggi yang ditembak mati dalam peristiwa tersebut - mengaku resolusi konflik di generasi ketiga merupakan cara terbaik untuk mengakhiri luka lama yang masih tersisa di generasi sebelumnya.

Simak juga:

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Komnas HAM pada 23 Juli 2012 lalu menyatakan peristiwa brutal yang diduga menewaskan lebih dari 500.000 di Indonesia merupakan pelanggaran HAM berat.

Kejadian pada 30 September disebutkan termasuk langkah sejumlah prajurit Tjakrabirawa pimpinan Letkol Untung menculik dan membunuh enam jenderal dan seorang perwira menengah Angkatan Darat. Jenazah mereka kemudian ditemukan di sebuah sumur di Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Partai Komunis Indonesia (PKI) dinyatakan berada di balik gerakan pengambilalihan kekuasaan dengan kekerasan tersebut. Terjadi penangkapan besar-besaran terhadap para anggota atau siapa pun yang dianggap simpatisan atau terkait PKI.

Bagaimana anak dan cucu pihak-pihak yang berseberangan ini memahami peristiwa tersebut?

Video produksi: Anindita Pradana dan Callistasia Wijaya