'Jurassic Park Komodo' di Rinca: 'Harap tenang', namun truk keluar masuk, pembangunan resor dikritik tak perhatikan keselamatan reptil purba setelah muncul foto viral

Kawasan pembangunan ditutup setelah foto komodo di depan truk ini.
Keterangan gambar,

Kawasan pembangunan ditutup setelah foto komodo di depan truk ini.

Pemerintah menutup kawasan proyek pembangunan "Jurassic Park Komodo" di kawasan Loh Buaya, Pulau Rinca tak lama foto seekor Komodo sedang menghadang truk pengangkut material bangunan viral di media sosial.

Peneliti menilai pembangunan, yang akan diselesaikan tahun depan dan dapat dibuka untuk umum pada akhir Juni 2021, tidak sesuai nilai konservasi.

Di sisi lain, pelaku ekowisata di Taman Nasional Komodo mengatakan proses dan konsep pariwisata di habitat Komodo yang tengah dijalankan pemerintah tidak ramah lingkungan.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengatakan kawasan Loh Buaya, lokasi pembangunan "Jurassic Park Komodo" ditutup bukan untuk menutup-nutupi proyek yang sedang berlangsung, tapi karena pengunjung yang tak ramai selama masa pandemi.

Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam Dan Ekosistem (Dirjen KSDAE), Wiratno mengatakan selama pembangunan memang kawasan ini tidak boleh dikunjungi.

Keterangan gambar,

Menurut Gubernur NTT, Viktor Laiskodat, TNK Loh Liang yang berada dalam pengawasan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, belum dikelola dengan baik.

"Kemarin tidak ditutup dengan asumsi, dengan alasan ya nanti kalau kita tutup dikira nutup-nutupi. Sebenarnya memang nggak boleh memang harus ditutup untuk umum," katanya kepada BBC News Indonesia, Senin (26/10).

Keterangan gambar,

Truk dalam pembangunan di Pulau Rinca.

Dalam cuitan yang viral di Twitter, akun Kawan Baik Komodo menulis, "Sedih! Komodo berhadap-hadapan dengan truk proyek bangunan Wisata Jurassic di Pulau Rinca."

"Untuk pertama kalinya komodo-komodo ini mendengar deru mesin-mesin mobil dan menghirup bau asapnya. Akan seperti apa dampak proyek-proyekini ke depannya? Masih adakah yang peduli dengan konservasi?" tulis akun itu dengan retweet lebih dari 12.000 kali.

Alasan lain KLHK menutup kawasan ini untuk umum supaya terjadi proses percepatan penataan dan pembangunan sarana dan prasarana wisata alam di Resor Loh Buaya. Kawasan di Seksi Pengelolaan Taman Nasional (STPN) wilayah I ini akan ditutup hingga proyek pembangunan selesai pada akhir Juni 2020.

Wiratno mengatakan proyek pembangunan kawasan wisata yang digarap Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ini bertujuan agar wisatawan tak lagi berinteraksi langsung dengan Komodo.

"Seluruh (bangunan) berbentuk lingkaran, dan orang melihat Komodo dari atas," katanya.

Wiratno mencatat jumlah hewan karnivora yang berada di Pulau Rinca itu sebanyak 1300 ekor, dan 66 ekor di antaranya berada di Loh Buaya. Sementara itu, sebanyak 15 ekor hidup di area proyek pembangunan 'Jurassic Park'.

Keterangan gambar,

Pariwisata adalah tulang punggung perekonomian warga Kampung Komodo.

"Pembangunannya tidak lebih dari satu hektar… Jadi memang terbatas untuk melihat Komodo dengan cara yang lebih aman," katanya.

Kawasan wisata ini termasuk pembangunan dermaga, pusat informasi wisata, jerambah, dan penginapan penjaga hutan (ranger) serta pemandu alam.

Selama proses pembangunan berlangsung sejak masa pandemi, KLHK sudah menempatkan polisi hutan di kawasan tersebut, kata Wiratno.

Mereka bertugas untuk memastikan tak ada Komodo yang menjadi korban dari pembangunan proyek tersebut.

"Memang sudah ditempatkan 10 polisi hutan, tiap hari untuk memastikan bahwa seluruh proses pembangunan yang selesai akhir Juni 2021, tidak ada Komodo yang jadi korban," katanya.

Ia menambahkan, menyusul foto viral Komodo menghadang truk, tim-nya pekan ini akan menuju lokasi untuk membuat protokol keselamatan Komodo.

"Saya mau melihat load materialnya seperti apa, apakah kita tetap membolehkan itu masuk truk kecil. Makanya saya cek langsung sebelum berlanjut ada problem, kita mengantisipasi itu," kata Wiratno.

Selain memantau alat berat dan material yang digunakan untuk pembangunan, KLHK juga akan melakukan sosialisasi tiap hari kepada penjaga hutan, termasuk pekerja, arsitek, dan pemborong bangunan.

Keterangan video,

Penutupan Pulau Komodo: Haruskah manusia dipisahkan dari komodo?

"Adaptasi pembangunan pada lokasi sensitif Taman Nasional yang sebagai world heritage. Pasti kalau dibongkar acak-acakan, namanya juga pembongkaran kan. Tapi nanti kalau sudah jadi akan bagus sekali.," kata Wiratno.

Rancangan pembagian TN Komodo

Juru bicara Pemprov Nusa Tenggara Timur, Marius Ardu Jelamu mengaku rencana pemerintah pusat sudah sejalan dengan pemda. Nantinya, Pulau Rinca yang dihuni hampir setengah populasi Komodo akan dijadikan pusat wisata.

"Sekarang memang sedang dibangun Jurassic Park, kenapa di Rinca? karena memang konsep kami, pemerintah provinsi, Rinca itu direncanakan untuk Mass Tourism. Sedang Pulau Komodo itu diarahkan untuk Pulau Konservasi," katanya kepada BBC News Indonesia, Senin (26/10).

Kunjungan ke Pulau Komodo akan dibatasi. "Dengan biaya US$1000 per tahun, sistemnya tidak semua orang akan bisa masuk ke pulau Komodo, kecuali yang sudah terdaftar sebagai anggota," kata Marius.

Keterangan gambar,

Peristiwa itu terjadi jauh dari kawasan yang ditetapkan aman untuk wisatawan.

Nantinya seluruh aktivitas terkait pariwisata, seperti perdagangan cinderamata di Pulau Komodo akan dilarang. Warga Pulau Komodo yang ingin mencari nafkah di sektor pariwisata akan dialihkan ke Pulau Rinca.

"Itu ibaratnya gula sedang ada di sana (Pulau Rinca) sedang dibangun, kalau ada gula, maka semut-semut pasti ada di sana, dan masyarakat bisa ambil bagian di dalamnya," tambah Marius.

Mengkhianati tujuan konservasi

Gregorius Afioma, peneliti dari Sunspirit for Justice and Peace yang berbasis di Labuan Bajo mengatakan izin yang diberikan KLHK untuk pembangunan sarana pariwisata di Pulau Rinca dan Padar bertolak belakang dengan apa yang sudah diajarkan mereka dalam merawat kawasan konservasi.

"Misalnya, di beberapa kawasan itu (ada plang dari KLHK) Keep Silent (Tenang). Artinya, suara pun diperhitungkan di dalam kawasan konservasi. Di satu pihak truk masuk, eksavator masuk, beberapa hari helikopter terbang terus ke Padar."

"Nah, justru itu yang kita lihat di mana sebenarnya yang mau mereka ajarkan ke kita tentang konservasi ini. Mereka yang mengajarkan, mereka yang membatalkan," kata Afi, sapaan Gregorius Afioma kepada BBC News Indonesia, Senin (26/10).

Menurut Afi, lokasi pembangunan Jurassic Park adalah tempat biasa Komodo berjemur di pagi hari.

"Yang bagian atas itu tempat berjemur Komodo, atau di landscape itu biasa Komodo melintas, atau binatang lain seperti rusa, kerbau liar, babi hutan. Di bagian bakau, sering ada monyet di situ, juga ular," katanya.

Afi keberatan dengan proses dan tujuan pembangunan Jurassic Park di sana.

"Kalau tujuannya baik, itu prosesnya juga harus baik, bagimana kita bisa percaya bahwa ini adalah tujuan yang baik, ketika prosesnya sudah mengkhianati tujuannya."

Keterangan gambar,

Komodo hidup di lima pulau di Indonesia.

Afi juga mempertanyakan penutupan kawasan Loh Buaya, lokasi pembangunan Jurassic Park. Menurutnya publik akan sulit mengetahui nasib habitat satwa selama pembangunan berlangsung.

Truk pertama kali masuk kawasan konservasi

"Saya kira ini persis menjadi pertanyaan kita, bagaimana kemudian publik bisa tahu," katanya.

Dalam unggahan di akun Instagramnya, Afi menulis terkejut mendapat kiriman foto komodo "hadang truk" dan menyebut "ini benar-benar gila, tak pernah dibayangkan sebelumnya bisa terjadi."

"Truk masuk ke dalam kawasan konservasi yang dijaga ketat selama puluhan tahun dan telah secara sistematik meminggirkan masyarakat dari akses terhadap pembangunan yang layak demi konservasi,"

"Ini barangkali truk pertama yang masuk ke dalam kawasan konservasi komodo sejak komodo menjadi perhatian dunia tahun 1912.⁣

"⁣Dengan santuy, orang menyaksikan dari atas truk, tanpa mereka menyadari bahwa kawasan ini telah melewati sejarah yang sangat panjang dan melibatkan narasi-narasi pengorbanan dari berbagai pihak," tulis Afi dalam unggahan yang disukai lebih dari 276.000 orang.⁣

Bikin stres Komodo dan hewan lain

Sementara itu, Tissa Septiani Indra, pengelola bisnis kapal wisata di Labuan Bajo menilai proses pembangunan Jurassic Park di Pulau Rinca bisa membuat depresi binatang yang ada di sana.

"Semen itu kan polusi. Yang namanya truk diesel masuk tanah berisiknya kan pasti ganggu burung-burung di sana. Di Rinca, jenis burungnya banyak banget. Nggak Cuma Komodo doang. Pasti mereka terganggu dengan bising," kata Tissa kepada BBC News Indonesia, Senin (26/10).

Selama ini konsep yang digunakan pengelola wisata berbasis komunitas, menjelajah dengan berjalan kaki. Hal ini untuk mengurangi gangguan kepada hewan liar.

"Kita jalan tracking, masuk ke dalam, suara pelan-pelan. Nggak mau kita bikin kegaduhan, lah mereka pasang alat berat," kata Tissa.

"Mereka pasang pasak bumi, kan getarnya itu ke mana-mana. Getarnya itu ganggu binatang."

Keterangan gambar,

Ide penutupan Taman Nasional Komodo menuai kritik karena kehadiran turis dianggap tak menganggu satwa yang hidup liar.

Komodo jinak dan liar

Sementara itu, Peneliti Komodo dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Evy Ayu Erida menyarankan agar pemerintah memberi pagar agar Komodo tidak memasuki kawasan pembangunan.

"Kalau pembangunan di satu lokasi, ya komodonya dipagarin dulu. Jadi jangan sampai komodonya datang ke tempat itu," jelasnya kepada BBC News Indonesia, Senin (26/10)

Evy menambahkan, sejauh ini terdapat karakteristik Komodo yang berbeda: liar dan bergantung pada manusia. "Jadi misalnya di resort, di Loh Buaya, ada saja Komodo yang selalu lewat di situ, tidak mengganggu kita, kita juga tidak mengganggu Komodo. Jadi seperti hidup berdampingan."

Komodo dikatakan bergantung manusia, setelah terdapat atraksi di mana manusia biasa memberikan makanan kepada reptil raksasa tersebut di era 80an, kata Evy.

Saat itu, terdapat atraksi memberikan kambing kepada Komodo, yang kemudian sebagian dari hewan ini bergantung dari manusia.

Keterangan gambar,

Taman Nasional Komodo merupakan salah satu destinasi pariwisata prioritas pemerintah pusat.

"Mungkin keterlanjutan, yang dilakukan ada juga hewan-hewan yang tergantung ke manusia. Membuang sampah sisa makanan. Akhirnya di makan sama Komodo. Itu juga terjadi. Ada juga yang masuk ke rumah penduduk, yang masuk ke dapur juga ada," kata Evy.

Terkait pembagian tempat wisata di kawasan TN Komodo, menurut Evy ini sebagai jurus pemerintah untuk bisa melakukan konservasi sekaligus edukasi.

"Jadi kalau di semua digunakan untuk wisata, akan terganggu semuanya, dan kalau semua tidak digunakan untuk wisata, tidak akan ada edukasi kepada masyarakat di dunia."

Apakah pembangunan ini akan mengganggu populasi dan habitat Komodo?

Evy menjawab singkat, "Masalah terganggu atau tidak terganggu saya pikir ini perlu studi lebih lanjut."