Kisah dokter penyintas covid-19, 'hal sederhana untuk membangkitkan semangat hidup pasien covid-19'

dokter covid-19
Keterangan gambar,

Dokter Tri Maharani saat menjalani perawatan sebagai pasien covid-19

Seorang dokter spesialis yang bekerja di unit gawat darurat terinfeksi Covid-19. Selama masa pemulihan ia mengajak koleganya-pengusaha lemon, pembuat kue, dan psikolog-untuk menyemangati pasien Covid-19 lainnya, yang sebagian besar adalah tenaga kesehatan.

Berdasarkan pengalamannya, jatuh sakit karena Covid-19 membutuhkan dukungan karena pasien dihadapkan dengan 'beratnya tekanan psikis', termasuk stigma dari lingkungan.

Hal sederhana seperti mengirimkan kue, buah, dan kata-kata penyemangat diyakini meningkatkan imunitas yang membawa kesembuhan pasien covid-19.

Tri Maharani adalah kepala unit gawat darurat di Rumah Sakit Daha Husada, Kediri, Jawa Timur. Ia baru saja menjalani karantina 14 hari setelah dinyatakan sembuh dari Covid-19.

"Jadi sekarang isolasi pemulihan. Saya tunggu kontrol lagi minggu depan. Jadi empat kali swab saya sudah negatif," kata dokter Maha, sapaan Tri Maharani kepada BBC News Indonesia, Jumat (03/07).

Namun apa yang dijalaninya, awalnya tidaklah mudah.

"Ketika saya dikasih tahu hasil swab-nya positif, itu dunia terasa banyak petir juga. Manusia biasa, takut mati juga. Tapi untungnya aku lalu berpikir, aku ini dokter, aku harus bisa mengatasi semua kegalauan, ketakutan," katanya.

Dokter spesialis pengobatan gawat darurat ini terinfeksi Covid-19 awal Juni lalu. Ini berawal saat salah satu pekerja di rumah sakit ke ruangannya dengan gejala Covid-19.

"Dia datang dengan (badan) panas, batuk, pilek, diare, muntah, kemudian badannya lemas," kata dokter Maha.

Meski pakai APD lengkap tetap tertular

Keterangan gambar,

Dokter Tri Maharani saat bersama dua orang kolega saat menjalani perawatan di rumah sakit

Saat menangani pasien itu, dokter Maha menggunakan alat pelindung diri (APD) level 3. Di mana seluruh tubuhnya terbungkus rapat: penggunaan pengaman mata, sarung tangan dan hazmat berlapis, hingga masker N95.

Ia menyadari gejala-gejala ini sebagai infeksi virus corona, sehari kemudian pasien diantar dengan mobil ke RSUD Tulungagung untuk menjalani pemeriksaan Covid-19.

Dokter Maha meyakini tertular saat mengantar pasien yang ditemani istri dan anaknya dalam satu kendaraan. Usai menjalani pemeriksaan, ketiganya dinyatakan positif Covid-19.

"Jadi saya dikepung tiga orang (pasien Covid-19). Ternyata memang itu menentukan, kalau kita kontak satu jam penuh, meskipun AC (mobil) saya matikan, jendela saya buka, tapi ya namanya satu jam penuh, tetap terinfeksi," kata Dokter Maha.

Keterangan gambar,

Sejumlah kolega dokter Tri Maharani memberikan dukungan

Selain itu, kelelahan karena berjaga di unit gawat darurat menjadi faktor penularan, kata dia. "Pagi itu antar dia ke Tulungagung, tapi malamnya saya jaga. Dan paginya, saya jaga juga. Jadi saya 16 jam jaga itu. Jadi kondisi saya memang lagi tidak bagus," katanya.

Beberapa hari kemudian, dokter yang menjabat Presiden Toksiologi Indonesia positif tertular virus corona dan menjalani perawatan selama 10 hari di Rumah Sakit Gambiran, rujukan bagi pasien dengan gejala sedang hingga berat.

'Stigma masyarakat Indonesia itu berat'

Selama menjalani perawatan, dokter Maha membutuhkan dukungan moril dari tempat bekerja hingga masyarakat. "Jadi orang yang diisolasi itu, sangat berat tekanan psikisnya. Jadi dia sendirian, nggak boleh pergi ke mana-mana. Sendirian itu risiko depresinya tinggi," katanya.

"Sudah aku sakit, stigma masyarakat Indonesia itu berat, keluarga juga mengalami kondisi tidak menyenangkan. Padahal aku ini menyelamatkan nyawa orang lain," demikian yang terlintas dalam pikiran dokter Maha.

Dokter Maha jmengatakan selama menjalani perawatan, keluarga di rumah dikucilkan dari lingkungan sekitar. Menjadi bahan omongan orang, dijauhkan.

"Ada kecurigaan, nggak boleh keluar. Ada omongan begini-begitu, sehingga mereka terkucilkan. Padahal keluarga saya negatif semua hasil swab-nya, karena saya jarang di rumah. Itu yang harus diubah di Indonesia," katanya.

Kondisi seperti ini justru membuat pasien covid-19 mengalami 'stress dan tertekan'.

Lemon madu memicu ide menyemangati pasien lain

Dari sini, ia berpikir cara memberi semangat bagi pasien-pasien yang masih berada di ruang isolasi dalam perawatan covid-19.

Keterangan gambar,

Pakte kiriman dari Tri Maharani kepada koleganya yang terinfeksi Covid-19

Hingga saatnya, salah satu sahabatnya, seorang pengusaha lemon asal Batu, Jawa Timur mengirim buah lemon ke ruang isolasinya. Kebetulan teman lain juga mengirim madu.

Kedua kiriman ini yang kemudian dikonsumsi dokter Maha selama berada di ruang isolasi, untuk mengurangi mual dan nyeri telan.

"Lemon dan madu ini membuat saya enak. Nggak nyeri telan, saya bisa makan banyak. Dan bagaimana pun, lemon dan madu ini vitamin C-nya tinggi. Membuat tubuh saya lebih nyaman," kata Dokter Maha.

Pengalaman ini menjadi salah satu yang mendorong dokter Maha untuk memberi semangat kepada sejumlah koleganya, tenaga kesehatan, yang sedang terinfeksi Covid-19. "Dengan hal-hal sederhana itu, bisa membangkitkan semangat mereka," katanya.

Pengusaha lemon itu adalah Seilawati. "Saya yang kirim jeruknya, dokter Maha yang kirim madunya," katanya.

Seilawati sudah beberapa kali mengirimkan lemon kepada pasien Covid-19, agar segera bersemangat untuk sembuh. "Saya turut senang, kalau tenaga kesehatan ikut sembuh. Kan banyak juga yang jadi korban," kata Seilawati.

Selain Seila, penguasaha kue, Yunan Yusmanto juga diajak dokter Maharini terlibat memberikan semangat kepada tenaga kesehatan yang terinfeksi Covid-19. Yunan bertugas mengirimkan kue dan memberi kartu ucapan semangat.

"Istilahnya bisa memberikan semangat hidup, semangat untuk kembali sehat, yang jelas dengan adanya semangat itu, imun juga meningkat," kata Yunan kepada BBC News Indonesia, Jumat (03/07).

Keterangan gambar,

Khairul Abidin, salah satu relawan tenaga kesehatan di Aceh usai dinyatakan sembuh dari Covid-19.

'Survivor-19'

Aktivitas ini membulatkan tekad dokter Maharani yang saat ini masih menjalani masa pemulihan, untuk membuat gerakan survivor-19. Gerakan di mana mana pasien Covid-19 memberi dukungan kepada mereka yang masih sakit.

Salah satu yang berencana untuk ikut gerakan ini adalah adalah Kristika Sadtyaruni, psikolog di Rumah Sakit Gambiran, Kediri, Jawa Timur. Kristika adalah psikolog yang menemani dokter Maha selama menjalani perawatan.

"Saya mau sediakan hati, untuk support pasien. Mungkin saya tidak bisa bantu banyak, tapi ketika saya bisa berbagi, meskipun hanya berbagi kata-kata motivasi, kata-kata semangat. Saya berharap itu bisa sedikit membantu mereka. Menyadarkan mereka, bahwa mereka tidak sendiri," kata Kristi kepada BBC News Indonesia, Jumat (03/07).

Pada umumnya, kata Kristi, pasien Covid-19 yang menjalani perawatan mengalami depresi sedang hingga berat. Mereka merasa terasing dan kesepian di ruang isolasi. "Mereka merasa cemas, takut, dengan kondisi fisiknya yang menderita sakit ini. Itu secara psikologis lebih menyiksa mereka," katanya.

Keterangan gambar,

Menurut IDI, tenaga kesehatan di lapangan masih kekurangan APD.

Namun, pasien covid-19 yang mengalami tekanan paling berat adalah tenaga kesehatan. "Kalau pasien (umum), 1-2 minggu sembuh, mereka akan kembali ke keluarganya. Tapi kalau tenaga kesehatan? Kapan mau kembali? Tiap hari mereka bersentuhan dengan risiko tinggi walau sudah pakai APD," kata Kristi.

Salah satu yang mendapat dukungan sesama tenaga kesehatan yang terinfeksi Covid-19 adalah dokter David Jayanegara. Ia bekerja di salah satu rumah sakit di Gresik, Jawa Timur, dan telah selesai menjalani masa pemulihan dari Covid-19.

David dikirimi paket makanan dari Maharani dan teman-temannya. Hal yang dikatakan David sebagai 'kebaikan yang harus ditularkan kepada yang lain'.

"Artinya kalau teman sejawat lain terinfeksi kita juga tak usah menghakimi, kita harus membesarkan hatinya. Harapannya dengan membesarkan hati akan meningkatkan imunitas," kata David.

Keterangan gambar,

Para pasien diminta memberikan keterangan yang jujur kepada petugas kesehatan antara lain untuk memutus mata rantai.

David sebelumnya terinfeksi Covid-19 dengan status 'orang tanpa gejala'. Ia mengisolasi diri di rumah. Hal yang membuatnya tertekan saat isolasi adalah perlakuan lingkungan yang ia sebut sebagai intimidatif.

"Di rumah saya, sempat dilakukan penyegelan dari RT/RW. Itu sampai pagar luar (rumah) mereka tutup, sampai diberikan material yang tak bisa dibuat masuk," kata David kepada BBC News Indonesia, Sabtu (04/07)

Mantan pasien Covid-19 lain yang berkomitmen ikut gerakan ini adalah Khairul Abidin. Ia bekerja sebagai relawan tenaga kesehatan di salah satu laboratorium kesehatan di Aceh. Selama menjalani perawatan, ia juga mendapat kiriman makanan dari Maharani dan teman-temannya sebagai bentuk dukungan.

"Dengan mantan penderita yang menyemangati, itu beda dengan orang yang menyemangati tapi belum pernah terkena. Artinya, ini loh buktinya, saya saja dengan semangat dengan doa, kita sembuh," kata Khairul.

Kembali ke tempat dokter Maharani mengkarantina diri selama masa pemulihan. Ia rencananya mulai kembali bekerja pekan ini, dan membawa harapan untuk membesarkan gerakan survivor-19.

"Itu kalau orang lebih banyak yang melakukan seperti saya, orang se-Indonesia melakukan, pasti pasien-pasien covid cepat sembuh," kata dokter Maha.