Pemenggalan guru Prancis: Tujuh orang didakwa, termasuk dua murid, Samuel Paty mendapat 'penghargaan tertinggi'

Peringatan untuk Samuel Paty.
Keterangan gambar,

Peringatan untuk Samuel Paty, guru yang disebut Presiden Macron "pahlawan".

Tujuh orang dikenai dakwaan terkait kematian seorang guru sejarah, yang dipenggal di dekat sekolah tempat ia mengajar pekan lalu.

Samuel Paty, 47, menjadi sasaran serangan setelah menunjukkan karikatur Nabi Muhammad kepada para muridnya.

Pembunuhnya, Abdullakh Anzorov, remaja 18 tahun kelahiran Chechnya, ditembak mati oleh polisi setelah pembunuhan Jumat (16/10).

Tujuh orang yang dikenai dakwaan, termasuk dua siswa sekolah menengah pertama dan satu orang tua seorang murid Paty, ditahan beberapa hari setelah pembunuhan.

Jaksa penutut mengatakan Rabu (21/10), enam tersangka didakwa membantu pembunuhan yang dilakukan teroris dan tengah diinvestigasi.

Satu orang dituduh memiliki hubungan dekat dengan pembunuh dan menghadapi dakwaan yang lebih ringan, berhubungan dengan teroris.

Semua tersangka, selain dua siswa yang di bawah umur, masing-masing 14 dan 15 tahun - berada dalam tahanan.

Pembunuhan Paty mengejutkan Prancis dan memicu banyak dukungan di berbaga acara peringatan di seluruh negara.

Dalam peringatan Rabu malam di Paris (21/10), Presiden Emmanuel Macron memuji Paty sebagai "pahlawan diam" dan "wajah Republik".

"Dia dibunuh karena jiwa Republik tertanam padanya. Ia dibunuh karena kelompok Islamis menginginkan masa depan kita. Mereka tahu, dengan adanya pahlawan-pahlawan yang bergerak secara diam-diam seperti ini, upaya mereka tak akan pernah berhasil," kata Macron.

Macron memberikan penghargaan paling tinggi negara, Légion d'honneur, kepada keluarga Paty.

Dua remaja dibayar Rp5 juta untuk menunjuk Paty

Dua remaja yang merupakan murid di sekolah menengah pertama di dekat Paris mengidentifikasi Paty, ke pembunuhnya, dengan imbalan antara 300 sampai 350 Euro (Rp5,2 juta sampai Rp6 juta ), kata Ricard.

Paty dibunuh dalam perjalanan ke rumahnya Jumat lalu dari sekolah menengah pertama tempat ia mengajar di kawasan luar kota Paris, Conflans-Sainte-Honorine.

Ia menjadi sasaran kebencian di online setelah menunjukkan ke para muridnya karikatur Nabi Muhammad dalam satu pelajaran sekolah.

Pembunuhnya, Anzorov, memberikan sebagian uang yang dijanjikan di luar sekolah dan meminta murid-murid itu untuk menunjuk guru yang dimaksud, kata jaksa Jean-Francois Ricard dalam keterangan kepada pers.

Keterangan gambar,

Samuel Paty, seorang guru yang disukai, mendapat banyak ancaman karena menunjukkan kartun Nabi Muhammad.

Dua murid termasuk di antara tujuh orang yang menghadapi tuntutan "berkonspirasi melakukan pembunuhan pembunuhan teroris."

Dari tujuh orang yang akan didakwa, selain dua murid itu juga ada seorang ayah murid yang mengeluh Paty menggunakan kartun Nabi Muhammad dalam pelajaran kebebasan berbicara, tiga teman pembunuh dan seorang yang disebutkan beraliran Islam radikal.

Ricard mengatakan pembunuhnya hanya mengetahui nama guru dan sekolah, namun tidak mengetahui orangnya.

"Ia hanya bisa mengidentifikasi (Paty) karena bantuan para murid di sekolah itu," katanya.

Sebelumnya, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengajak Rusia untuk meningkatkan kerja sama dalam memerangi terorisme setelah peristiwa pemenggalan itu.

Komentar Macron disampaikan dalam percakapan telepon dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, yang menggambarkan serangan itu sebagai "pembunuhan biadab".

Keterangan gambar,

Mengenang guru sejarah yang dipenggal, warga memegang tulisan, "Saya guru."

Samuel Paty, 47, dipenggal kepalanya setelah memperlihatkan kartun kontroversial Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.

Abdullakh Anzorov, etnis Chechnya, ditembak mati oleh polisi tak lama setelah serangan itu.

Apa yang dikatakan Macron dan Putin?

Keterangan gambar,

Warga Prancis berkumpul mengenang Samuel Paty.

Macron mengatakan ia ingin adanya "penguatan kerja sama Prancis-Rusia dalam perang melawan terorisme dan imigrasi ilegal", demikian pernyataan pihak kepresidenan Prancis.

Tidak ada rincian lebih lanjut tentang percakapan telepon Macron dengan Presiden Putin pada Selasa (20/10).

Sementara itu, Kremlin menerbitkan pernyataan singkat, mengutip Putin yang mengatakan bahwa kedua belah pihak "menegaskan kembali kepentingan bersama dalam mengintensifkan upaya bersama dalam perang melawan terorisme dan penyebaran ideologi ekstremis".

Apa saja yang sudah diketahui tentang penyerang?

Abdoulakh Anzorov, nama sang penyerang guru, lahir di Moskow tetapi telah tinggal di Prancis sejak 2008. Keluarganya berasal dari wilayah Chechnya, wilayah dengan mayoritas Muslim di Rusia.

Anzorov datang ke Prancis dengan status pengungsi sebagai anak-anak dan tidak dikenal oleh polisi antiterorisme, demikian laporan media Prancis.

Ia tinggal di kota Évreux, Normandy, yang berjarak sekitar 100 km dari TKP dan tidak memiliki kaitan jelas dengan sang guru atau sekolah tempat ia mengajar.

Pria itu pernah beberapa kali tersangkut masalah hukum, dan diadili, tapi hanya dengan dakwaan pelanggaran ringan.

Kakek dan saudara laki-lakinya yang berusia 17 tahun telah diinterogasi dan dibebaskan setelah serangan itu.

Rusia dalam pernyataan hari Sabtu pekan lalu menyatakan tidak terkait dengan penyerangan itu.

"Kejahatan ini tidak ada hubungannya dengan Rusia karena orang ini telah tinggal di Prancis selama 12 tahun terakhir," kata Sergei Parinov, Juru Bicara Kedutaan Rusia di Paris, kepada kantor berita Tass, Sabtu (17/10)

Empat siswa sekolah termasuk di antara 15 orang yang ditahan di Prancis setelah seorang guru, Samuel Paty, dipenggal kepalanya. Paty sebelumnya menunjukkan kartun kontroversial Nabi Muhammad kepada murid-muridnya.

Tahanan lain mencakup empat anggota keluarga si pembunuh, seorang orang tua murid di sekolah, dan seorang radikal Islam yang terkenal.

Polisi melakukan 40 penggeledahan rumah-rumah tersangka radikal pada Senin (19/10) dan penggeledahan lebih lanjut akan dilakukan.

Pembunuhan brutal itu mengejutkan Prancis.

Puluhan ribu orang mengambil bagian dalam aksi unjuk rasa di seluruh negara pada Minggu (18/10) untuk menghormati Paty dan menyerukan kebebasan berbicara.

Keterangan gambar,

Bunga-bunga ditaruh di sekolah tempat guru yang dibunuh itu mengajar

Upacara penghormatan kepada Paty, yang berusia 47 tahun, dijadwalkan diadakan di Universitas Sorbonne di Paris pada Rabu (21/10).

Sebelumnya diberitakan pelaku pemenggalan menunggu di luar sekolah dan meminta sejumlah murid untuk mengidentifikasi targetnya, menurut lembaga antiterorisme Prancis.

Pria itu kemudian mengunggah foto korban yang telah meninggal ke media sosial.

Keterangan video,

Rallies in Paris, Toulouse, Lyon and other French cities in support of Samuel Paty

Si penyerang kemudian menembak polisi dengan senapan udara sebelum ditembak mati.

Polisi mengatakan tengah menyelidiki kemungkinan kaitan tersangka dengan kelompok ekstremis Islam.

Serangan itu terjadi pada sekitar pukul 17:00 waktu setempat pada hari Jumat (16/10) dekat College du Bois d'Aulne, tempat Paty mengajar, di Kota Conflans-Sainte-Honorine, yang berjarak sekitar 30km dari barat-laut Paris pusat.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan serangan itu menunjukkan semua ciri "serangan teroris Islamis" dan guru itu dibunuh karena ia "mengajarkan kebebasan berekspresi".

Keterangan gambar,

Pembunuhan guru itu dinyatakan Presiden Macron sebagai serangan teroris

Pembunuhan ini terjadi pada saat persidangan atas serangan tahun 2015 terhadap majalah satire Prancis Charlie Hebdo tengah berlangsung. Majalah Charlie Hebdo menjadi target karena menerbitkan kartun Nabi Muhammad yang kontroversial.

Tiga minggu lalu, seorang pria menyerang dan melukai dua orang di luar bekas kantor majalah Charlie Hebdo.

Keterangan gambar,

Sebuah mural korban serangan di kantor Charlie Hebdo pada tahun 2015.

Kronologi serangan

Perincian tentang penyerangan dan penyelidikan diberikan oleh jaksa penuntut antiterorisme, Jean-François Ricard.

Pelaku diketahui pergi ke kampus pada Jumat siang dan meminta para siswa untuk menunjuk yang mana Samuel Paty itu, kata Ricard.

Si penyerang kemudian membuntuti Paty, yang berjalan kaki pulang ke rumahnya setelah sekolah, melukai kepala korban dengan pisau dan kemudian memenggal kepalanya.

Ricard menyebut saksi mata mendengar si penyerang berteriak "Allahu Akbar", atau "Allah Maha Besar".

Laki-laki itu kemudian mengunggah foto korban ke akun Twitter, bersama cacian untuk PM Macron dan para "kafir" dan "anjing" di Prancis.

Keterangan gambar,

Lokasi pembunuhan telah disegel dan penyelidikan tengah dilakukan.

Ketika polisi mendekati si penyerang, ia menembakkan senapan udara ke arah polisi, kata Ricard.

Polisi balas menembak. Tersangka berusaha bangun dan ditembak lagi, sampai sembilan kali.

Sebilah pisau dengan panjang 30cm ditemukan di dekat si penyerang.

Perkembangan penyelidikan

Ricard mengatakan Paty telah menjadi sasaran berbagai ancaman sejak menunjukkan kartun Nabi Muhammad dalam kelas tentang kebebasan berekspresi, dalam kaitan dengan kasus Charlie Hebdo.

Majalah satire Prancis itu menjadi sasaran serangan mematikan pada 2015 setelah mempublikasikan kartun tersebut. Persidangan tentang serangan itu masih berlangsung.

Paty, guru sejarah dan geografi, menyarankan para murid yang beragama Islam untuk memalingkan pandangan jika mereka merasa akan tersinggung.

Orang tua salah seorang murid marah karena insiden tersebut. Ia menuduh Paty menunjukkan gambar telanjang Nabi Muhammad.

Sang ayah mengajukan komplain secara formal dan membuat video yang menunjukkan kemarahan pada tindakan Paty, serta menyerukan agar orang-orang datang berama-ramai ke sekolah untuk protes.

Sang ayah adalah salah satu orang yang kini dalam tahanan polisi, kata Ricard. Ia menambahkan bahwa saudari ipar pria itu bergabung dengan kelompok yang menyebut diri mereka Negara Islam di Suriah pada 2014.

Sedikitnya satu dari orang yang ditangkap dikenali oleh polisi antiterorisme, ujarnya, dan kaitan lainnya sedang diselidiki.

Dan setidaknya empat dari 10 yang ditangkap adalah kerabat si penyerang.

Ricard mengatakan ini adalah serangan kedua sejak persidangan Charlie Hebdo dimulai. Sebelumnya, seorang pria menyerang dan melukai dua orang di luar bekas kantor majalah itu.

Ricard berkata ada "ancaman terorisme tingkat tinggi yang sedang berlangsung di tanah Prancis".

Keterangan gambar,

Sejumlah orang menaruh bunga di luar sekolah, tempat Paty dibunuh.

Reaksi masyarakat Prancis

Para siswa dikabarkan sangat kaget akan pembunuhan brutal guru yang disukai banyak murid. Seorang ayah menulis di Twitter bahwa anak perempuannya "hancur, ketakutan oleh kekerasan tindakan itu. Bagaimana saya bisa menjelaskan kepadanya hal yang tidak pernah terbayangkan?"

Seorang mantan murid Paty, Martial, 16 tahun, berkata sang guru mencintai pekerjaannya: "Ia sungguh-sungguh ingin mengajari kami banyak hal - kadang-kadang kami berdebat".

Presiden Prancis berkata acara penghormatan nasional akan diselenggarakan untuk Paty, dan tagar #JeSuisSamuel (Saya Samuel) menjadi tren di media sosial, mirip dengan seruan solidaritas #JeSuisCharlie serangan terhadap Charlie Hebdo.

Keterangan gambar,

Presiden Macron menyatakan guru itu dibunuh karena mengajarkan 'kebebasan berekspresi'

Berbicara di lokasi kejadian beberapa jam setelah insiden, Presiden Macron menekankan pentingnya persatuan nasional. "Mereka tidak akan menang, mereka tidak akan memecah-belah kita," ujarnya.

Charlie Hebdo pada hari Jumat menyatakan dalam akun twitternya, "Intoleransi baru saja mencapai level baru dan tampaknya terus menebarkan teror di negara kita."

Menteri Pendidikan Jean-Michel Blanquer, yang menemui para pemimpin dari serikat guru pada Sabtu, berkata dalam pernyataan yang direkam bahwa Paty telah dibunuh oleh "musuh kebebasan" dan Prancis "tidak akan pernah mundur ketika dihadapkan dengan teror dan intimidasi".

Para pemimpin umat Islam di Prancis juga mengutuk serangan itu. "Masyarakat yang beradab tidak membunuh orang yang tidak bersalah, barbarismelah yang melakukannya," kata Tareq Oubrou, imam masjid di Bordeaux, kepada France Inter.

Majelis rakyat Chechnya yang berbasis di Strasbourg, Eropa, berkata dalam sebuah pernyataan: "Seperti semua orang Prancis, komunitas kami merasa ngeri dengan kejadian ini."